Pernah dengar istilah gaya hidup di atas kertas tapi dompet kosong? Nah, kasus dua pria di Singapura ini benarbenar contoh nyata. Mereka mengaku sebagai pakar finansial, pamer mobil mewah Lamborghini, pakai jam tangan mahal, dan rajin tampil di seminarseminar kekayaan. Tapi siapa sangka, di balik penampilan mentereng itu, mereka justru menjalankan bisnis investasi bodong selama tiga tahun terakhir.
Akibatnya, lebih dari 50 orang kini gigit jari lantaran dana total sekitar 5 juta dolar Singapura atau setara Rp70 miliar raib begitu saja. Para korban pun kebingungan, apalagi dua tersangka utama—Lim Jian Bin (36) dan Jason Fong Wai Hong (46)—kini sudah dinyatakan bangkrut masingmasing pada April dan Juli 2026 lalu.
Menurut laporan dari Mothership (1/9/2026), kedua pria ini jago banget membangun citra. Lim, yang juga akrab disapa Takeshi Lim, bahkan pernah memoles dirinya sebagai mantan sopir taksi online (PHV) yang sukses meraih kesuksesan besar. Sementara Fong disebutsebut sebagai direkturnya dan juga pemilik saham di enam perusahaan konsultan, ritel, hingga pusat kebugaran.
Yang lebih menarik, Lim dan Fong memposisikan diri sebagai mentor dan anak buah dalam bisnis waralaba perawatan wajah asal Korea yang mereka dirikan pada April 2023. Di media sosial, mereka kerap pamer momen kumpul supercar di Kuala Lumpur—lengkap dengan deretan Lamborghini—yang kini unggahannya sudah dihapus.
Modus Investasi yang Menggiurkan
Salah satu skema andalan mereka adalah bisnis mesin penjual otomatis bernama Nozomii Vending. Dengan mengoperasikan lebih dari 500 mesin, mereka menjanjikan imbal hasil 5–10% per tahun. Selama tiga tahun (2023–2026), lebih dari 40 investor tergiur dan menyetorkan dana hingga 4 juta dolar Singapura (Rp56 miliar).
Seorang penasihat keuangan yang juga ikut investasi bahkan mengaku menyetor 484.300 dolar Singapura (Rp6,78 miliar)—sebagian besar dari pinjaman bank! Awalnya, pembayaran dividen berjalan lancar, tapi perlahan meredup, dan akhirnya berhenti total. Kini, ia masih punya sisa dana Rp2,74 miliar di bisnis itu, dan sejak Juli lalu sudah tak bisa lagi menghubungi Lim.
Setelah dinyatakan bangkrut, Lim cuma bisa mengirim pesan singkat ke investor:
"Saya merasa malu dan bersalah untuk menghadapi Anda."
Tapi ya, katakata manis itu jelas tak cukup buat mengembalikan uang rakyat.
Skema Properti Juga Jadi Jebakan
Tak cuma mesin vending, Lim dan Fong juga main di sektor properti komersial. Lim menawarkan investasi properti industri dengan bunga 5% per tahun selama tiga tahun. Sementara Fong membujuk tujuh investor untuk mengucurkan total 390.000 dolar Singapura (Rp5,46 miliar) pada sebuah ruang seluas 134 meter persegi di Telok Blangah Heights, yang kini cuma diisi mesin cuci otomatis tanpa pengelola!
Salah satu korban cerita, ia kenal Fong dari seminar kekayaan tahun 2022. Fong meyakinkannya dengan janji dividen 15% per tahun dari investasi 50.000 dolar Singapura (Rp700 juta). Dua tahun pertama (2023–2024) memang dibayar tepat waktu, tapi saat dividen mulai macet di 2025, Fong memilih kabur dan hengkang dari grup WhatsApp pada September 2025.
Bahkan, mantan istrinya sempat turun tangan untuk menenangkan para investor, tapi hingga kini nasib dana mereka masih menggantung.
Kesimpulan: Waspada Investasi dengan Gaya Hidup Mewah!
Kasus ini jadi pengingat penting buat kita semua: penampilan mewah belum tentu jaminan keamanan dana. Investasi yang sehat adalah yang transparan, terdaftar resmi, dan punya risiko jelas. Jangan mudah tergiur imbal hasil tinggi apalagi kalau cuma bermodal pamer mobil sport dan seminar kilat.
Jika Anda atau kerabat pernah mengalami hal serupa, segera laporkan ke pihak berwajib. Dan yang paling penting, stay safe dalam memilih tempat menaruh uang!
Sumber : cnbcindonesia










EmoticonEmoticon